Pertobatan Ekologis (Menyatu dengan Tuhan, Sesama dan Alam Ciptaan) - Alexander Verdiandy


Pertobatan ekologis dalam tradisi Katolik, terutama berdasar pada ensiklik Laudato Si' Paus Fransiskus, adalah ajakan untuk mengubah hati dan gaya hidup, mengakui kerusakan alam sebagai dosa, serta membangun kembali hubungan harmonis dengan Allah, sesama, dan ciptaan. Ini menyatukan aspek spiritual (relasi dengan Sang Pencipta) dan tindakan konkret (merawat lingkungan) sebagai satu kesatuan utuh. 

Berikut adalah poin-poin penting pertobatan ekologis yang menyatu dalam ajaran Katolik:
  • Menyatu dengan Tuhan (Dimensi Vertikal): Alam dipandang sebagai anugerah Tuhan dan karya tangan-Nya. Merusak alam berarti merusak karya Tuhan. Pertobatan berarti menyadari bahwa manusia adalah rekan kerja Allah dalam menjaga ciptaan (Kejadian 2:15).
  • Menyatu dengan Sesama (Dimensi Horizontal/Sosial): Kerusakan lingkungan berdampak paling parah pada kaum miskin dan rentan. Pertobatan ekologis adalah wujud keadilan sosial, di mana merawat bumi juga berarti merawat kehidupan manusia, terutama sesama yang menderita akibat dampak krisis iklim.
  • Menyatu dengan Alam Ciptaan (Dimensi Ekologis): Mengubah pola pikir dari eksploitasi menjadi peduli dan hormat (seperti Santo Fransiskus Asisi yang menganggap alam sebagai saudara/saudari). Ini melibatkan tindakan nyata, seperti mengurangi konsumsi berlebihan, membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon, dan hidup bersahaja. 
Pertobatan ekologis bukan sekadar aksi lingkungan hidup biasa, melainkan bagian dari iman kristiani yang utuh, yang mendorong manusia untuk menjadi pelindung rumah bersama bagi generasi mendatang. 

Dihadiri oleh 75 peserta
Sampai Jumpa di PD berikutnya pada hari Senin